Pemikiran

Supaya Dikatakan

Sedekah difoto, tahajud distory-kan. Hadis tiga golongan ini menjawab: untuk siapa sebenarnya?

Sedekah difoto dulu sebelum diberikan. Tahajud diceritakan di status sebelum sempat dingin keringatnya. Hafalan baru dibacakan di depan kamera, bukan di depan cermin. Lalu kita menunggu, membuka aplikasi berkali-kali, menghitung siapa saja yang sudah menonton, siapa yang berkomentar, siapa yang sekadar memberi tanda hati tanpa membaca.

Kalau unggahan itu sepi, hati ikut sepi. Kalau ramai, dada ikut lapang. Coba tanya pada diri sendiri, lapang karena apa sebenarnya?

Imam Abu al-Aza'im menaruh nama untuk perasaan ini, dan namanya sudah tua sekali. Dalam Ath-Thariq ila Allah, beliau mendefinisikannya begini.

اَلرِّيَاءُ هُوَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، وَحَقِيقَتُهُ طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ لِيَنَالَ بِذَلِكَ الْجَاهَ

"Riya adalah syirik yang tersembunyi. Hakikatnya adalah mencari kedudukan di dalam hati orang banyak, supaya dengan itu ia mendapatkan kehormatan di mata mereka."

Bacalah sekali lagi bagian akhirnya. Bukan pahalanya yang sedang dicari, melainkan kedudukan di hati orang. Notifikasi, komentar, dan jumlah yang menonton status kita, dalam bahasa lama, semua itu disebut jaah.

Cinta pada jaah, tulis beliau, adalah salah satu penyakit yang paling banyak membinasakan orang. Lalu beliau membawakan sebuah hadis yang isinya berat sekali untuk dibaca pelan-pelan.

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى فِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَةٌ: رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ... فَيَقُولُ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ

"Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat ada tiga. Seorang yang mati syahid di jalan Allah... lalu dikatakan kepadanya, 'Kamu dusta, tetapi kamu berperang supaya dikatakan pemberani, dan itu sudah dikatakan orang.'"

Rasulullah saw menyebut dua orang lagi setelahnya, dan pola jawabannya sama persis. Seorang yang belajar ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an, dikatakan kepadanya bahwa ia melakukannya supaya disebut ahli baca, dan itu sudah disebut orang. Seorang yang diberi harta berlimpah lalu ia infakkan di segala jalan kebaikan, dikatakan kepadanya bahwa ia melakukannya supaya disebut dermawan, dan itu sudah disebut orang. Ketiganya lalu diseret wajahnya dan dilemparkan ke neraka, sebagai orang pertama yang diadili.

Perhatikan yang membuat hadis ini begitu menakutkan. Bukan perbuatannya yang salah. Berperang membela agama, mengajarkan Al-Qur'an, dan bersedekah adalah tiga amal termulia yang ada. Satu hal saja yang membuatnya runtuh, yaitu jawaban atas pertanyaan "untuk apa kau kerjakan ini," dan jawaban yang benar ternyata bukan karena Allah, melainkan supaya dikatakan.

Imam Abu al-Aza'im menutup pembahasan ini dengan satu kalimat pendek, bahwa riya disebut juga syirik kecil. Dua nama untuk satu penyakit, tersembunyi sekaligus kecil, sehingga nyaris tidak terasa sampai ditimbang di hari ketika seluruh niat dibuka satu per satu.

Nah, ganti saja medan hadis itu. Bukan lagi medan perang, majelis ilmu, dan hartawan yang bersedekah, melainkan linimasa, story yang menghilang dalam dua puluh empat jam, dan unggahan yang dihitung dari jumlah yang menonton. Pertanyaannya tetap sama persis. Untuk apa kita mengerjakan kebaikan ini?

Bila jawabannya masih perlu menunggu ada yang melihat dulu, mungkin bukan kebaikannya yang perlu dihentikan. Niatnya yang perlu diluruskan sebelum jari sempat menekan tombol unggah, bukan sesudah menghitung berapa yang menonton.

R. Marpu Muhidin Ilyas
Penulis

R. Marpu Muhidin Ilyas

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, pendidik, dan penulis yang menekuni pendidikan Islam, hadis, pesantren, dan pembentukan manusia.

Profil penulis