Pemikiran

Santri Berkurang, Pesantren Menguat

Santri yang berkurang justru kekuatan pesantren untuk bangkit menjadi lembaga pendidikan paling dipercaya

Musim penerimaan santri baru tahun ini menyisakan raut yang sama di banyak pesantren. Papan pengumuman sudah terpasang, panitia sudah bekerja, brosur sudah tersebar ke mana-mana. Tetapi angka pendaftar tidak sampai seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagian pengasuh memilih diam. Sebagian lagi mulai bertanya-tanya, apakah zaman memang sedang berpaling.

Nah, di sini kita perlu berhati-hati memilih kacamata.

Bila kita membacanya dengan kacamata angka, gejala ini gampang sekali disimpulkan. Pesantren mundur. Pesantren kalah bersaing. Kesimpulan itu cepat, rapi, dan menenangkan bagi orang yang menyukai kepastian. Sayangnya kesimpulan itu juga dangkal.

Sebelum kita ikut menyimpulkan, ada baiknya kita bertanya lebih dulu. Apa yang sebenarnya sedang diuji ketika pendaftar berkurang? Jumlahnya, atau kesungguhan orang yang memilih?

Al-Qur'an merekam satu peristiwa yang polanya persis seperti ini. Setelah Rasulullah saw menceritakan perjalanan Isra dan Mikraj, sebagian orang yang sudah masuk Islam justru berbalik pergi. Akal mereka tidak sampai, lalu mereka menolak. Allah swt menamai peristiwa itu dengan satu kata.

وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِّلنَّاسِ
"Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia." (QS Al-Isra ayat 60)

Ibnu Abbas ra, sebagaimana dicatat Imam Bukhari, menegaskan bahwa penglihatan dalam ayat ini adalah apa yang Rasulullah saw saksikan pada malam Isra. Sayidah Aisyah ra, Mujahid, dan Hasan Al-Bashri memaknai kata ujian di situ sebagai kemurtadan sebagian orang setelah mendengar berita Mikraj. Sebagian pergi, sebagian lagi imannya justru bertambah kuat.

Perhatikan apa yang terjadi sesudah penyusutan itu. Sahabat yang bertahan adalah mereka yang siap membenarkan apa pun berita dan perintah Rasulullah saw, sekalipun akal belum sanggup menjangkaunya. Merekalah yang tidak lama kemudian berangkat ke Madinah, dan merekalah kaum Muhajirin. Dari rombongan yang menyusut itulah Islam justru mulai tegak sebagai masyarakat.

Bila Anda menggelar hajatan pada hari hujan turun deras, tamu yang datang pasti lebih sedikit daripada undangan yang Anda sebar. Tetapi yang datang itu biasanya justru orang yang paling dekat dengan Anda. Mereka basah, mereka repot, dan mereka tetap datang.

Begitulah keadaan pesantren kita hari ini. Bingkai negatif di media sedang menguji kepercayaan masyarakat, dan ujian semacam itu memang menyaring. Orang yang tetap mengantarkan anaknya kepada Anda adalah mereka yang mengerti ke mana arah pendidikan ini, paham misi besarnya, serta mencintai ilmu beserta para ulamanya. Jumlah mereka mungkin sedikit. Tetapi pemahaman, komitmen, dan kecintaan adalah modal sosial yang tidak bisa dibeli dengan promosi semahal apa pun.

Maka tidak ada gunanya kita meratapi angka. Setidaknya ada dua hal yang bisa Anda kerjakan mulai tahun ajaran ini. Pertama, pakai modal sosial tadi untuk membenahi mutu, sebab wali santri yang mengerti akan memaafkan gedung yang sederhana tetapi tidak akan pernah memaafkan pengajaran yang asal-asalan. Cara kedua, perbaiki layanan sampai ke hal yang paling kecil, mulai dari cara menerima tamu di depan gerbang sampai cara menjawab pesan wali santri pada tengah malam.

Dan, percayalah, mereka yang bertahan itu akan bercerita kepada tetangganya. Cerita orang yang puas selalu berjalan lebih jauh daripada brosur.
Pesantren kita tidak pernah besar karena jumlah. Pesantren besar karena ada yang benar-benar mengerti, lalu memilih tinggal.

Dan, bukankah dari yang sedikit itu dulu Madinah dibangun?

Wallahu A'lam Bi Ash Shawaab

R. Marpu Muhidin Ilyas
Penulis

R. Marpu Muhidin Ilyas

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, pendidik, dan penulis yang menekuni pendidikan Islam, hadis, pesantren, dan pembentukan manusia.

Profil penulis