Pemikiran

Peluit dan Takdir

Sepak bola mengajarkan bahwa ikhtiar milik manusia, sedangkan hasil akhir milik Allah.

Anda mungkin pernah kesal kepada wasit saat menonton pertandingan sepak bola. Keputusannya terasa keliru. Tayangan ulang bahkan memperlihatkan pelanggaran dari sudut yang berbeda. Pemain protes. Pelatih berteriak. Penonton mencemooh. Tetapi pertandingan tetap berjalan berdasarkan keputusan wasit.

Peluit sudah berbunyi.

Semua orang memahami aturan sederhana ini. Protes boleh dilakukan, tetapi pemain tidak bisa menghapus keputusan wasit lalu menentukan sendiri hasil pertandingan. Aneh bukan? Kita mudah menerima keputusan seorang wasit yang mungkin keliru, tetapi sering sulit menerima keputusan Allah swt yang mustahil salah.

Al-Qur’an menyebut kehidupan dunia sebagai permainan dan sesuatu yang melalaikan.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

“Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan.” (Q.S. al-An‘ām [6]: 32)

Kata *la‘ibun* berarti permainan. Sebuah permainan tentu memiliki aturan, batas waktu, peran, pelanggaran, dan hasil akhir. Pemain tidak boleh mengubah aturan hanya karena pertandingan berjalan tidak sesuai dengan keinginannya.

Begitulah kehidupan. Kita adalah pemain, bukan pemilik pertandingan. Kita boleh menyusun rencana, memilih strategi, berlatih keras, dan mengerahkan kemampuan. Semua itu bahkan wajib dilakukan. Tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam ketentuan Allah swt.

Masalahnya, manusia sering ingin menjadi pemain sekaligus penentu skor. Kita berdoa dan berusaha, lalu merasa berhak mendapatkan hasil tertentu. Bila hasilnya sesuai harapan, kita menyebut Allah Maha Baik. Tetapi bila hasilnya berbeda, kita mulai bertanya dengan nada kecewa, “Mengapa Allah memperlakukan saya seperti ini?”

Bukankah Allah tetap Maha Baik saat usaha Anda gagal? Bukankah Allah tetap Maha Adil saat doa belum terwujud? Apakah kebaikan Allah harus selalu dibuktikan dengan terkabulnya semua keinginan kita?

Tentu Allah swt bukan wasit dalam pengertian manusia. Wasit bisa salah melihat, terlambat meniup peluit, atau membutuhkan bantuan tayangan ulang. Allah tidak membutuhkan semua itu. Pengetahuan-Nya meliputi awal, akhir, sebab, akibat, hal yang tampak, dan hal yang masih tersembunyi dari manusia.

Kita hanya melihat satu adegan. Allah mengetahui seluruh pertandingan.

Imam Muhammad Madi Abu al-‘Azā’im mengajarkan cara membaca setiap kejadian melalui sebuah doa:

وَاجْعَلْنِي يَا إِلَهِي حَاضِرَ الْقَلْبِ مَعَكَ عِنْدَ كُلِّ مُتَجَدِّدٍ، مُشَاهِدًا لِأَنْوَارِكَ فِي كُلِّ مَشْهُودٍ

“Ya Allah, jadikanlah hatiku hadir bersama-Mu pada setiap kejadian baru dan mampu menyaksikan cahaya-Mu pada segala yang terlihat.”

Doa ini mengajarkan agar sebuah peristiwa tidak berhenti sebagai kejadian biasa. Kegagalan bisa menjadi perlindungan. Kehilangan bisa menjadi pembelajaran. Penundaan bisa menjadi penjagaan. Bahkan kemenangan dapat menjadi ujian yang lebih berat daripada kekalahan.

Menerima keputusan Allah bukan berarti berhenti berusaha. Pemain yang baik tidak meninggalkan lapangan hanya karena satu keputusan tidak menguntungkannya. Ia mengatur napas, memperbaiki permainan, lalu kembali mengejar bola. Begitulah tawakal. Usaha terus dilakukan, tetapi hati tidak berburuk sangka kepada Allah.

Menonton bola belum tentu membuat Anda tercela. Tetapi hafal aturan pertandingan lalu melupakan aturan kehidupan adalah kelalaian. Kita sibuk menilai keputusan wasit, tetapi jarang belajar membaca keputusan Allah.

Maka bermainlah sebaik mungkin. Patuhi aturan-Nya. Kerahkan seluruh ikhtiar. Setelah peluit takdir berbunyi, terimalah hasilnya dengan iman.

Selamat belajar membaca pertandingan kehidupan Anda.

R. Marpu Muhidin Ilyas
Penulis

R. Marpu Muhidin Ilyas

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, pendidik, dan penulis yang menekuni pendidikan Islam, hadis, pesantren, dan pembentukan manusia.

Profil penulis