Pemikiran

Malu Disebut Awam

Ulama tak malu mengaku awam di luar bidangnya; sebagian pakar justru lancang berbicara tentang agama.

Tanyakan kepada seorang kiai tentang cara kerja mesin pesawat. Sangat mungkin ia menjawab dengan ringan, “Saya awam dalam urusan itu.” Ia tidak tersinggung. Gelar keulamaannya tidak terasa berkurang hanya karena tidak memahami aerodinamika. Ia tahu bahwa mesin pesawat bukan bidangnya.

Namun, cobalah mengatakan kepada seorang ahli teknologi, dokter, ekonom, atau profesor bidang lainnya bahwa ia awam dalam ilmu agama. Sebagian mungkin keberatan. “Saya juga belajar agama.” “Saya sering mengikuti pengajian.” “Saya sudah membaca terjemah Al-Qur’an.” Bahkan, ada yang merasa cukup berbekal beberapa tayangan ceramah untuk mengoreksi pendapat ulama yang menghabiskan puluhan tahun mempelajari bahasa Arab, tafsir, hadis, fikih, dan usul fikih.

Tentu tidak semua pakar ilmu umum bersikap demikian. Banyak ilmuwan yang sangat rendah hati dalam urusan agama. Kritik ini tertuju kepada mereka yang sangat ketat menjaga batas kompetensi dalam bidangnya, tetapi tiba-tiba menghapus batas itu ketika berbicara tentang agama.

Seorang dokter tentu keberatan jika kiai menentukan diagnosis penyakit hanya berdasarkan pengalaman pribadinya. Seorang insinyur akan menolak jika ustaz menghitung kekuatan konstruksi bangunan hanya dengan perkiraan. Seorang ahli hukum tidak akan menerima fatwa hukum negara dari orang yang sekadar membaca beberapa unggahan di media sosial. Anehnya, ketika memasuki ilmu agama, aturan kepakaran itu kadang tidak lagi dipakai. Terjemah dianggap cukup untuk menafsirkan ayat. Potongan hadis dianggap memadai untuk menetapkan hukum. Logika pribadi ditempatkan sejajar dengan hasil ijtihad para ulama.

Kepakaran rupanya dianggap dapat menular. Karena seseorang ahli dalam satu bidang, ia merasa kecerdasannya otomatis mengantarkannya menjadi ahli dalam bidang lain. Padahal, keahlian bukan gelar kehormatan yang berlaku di semua tempat. Keahlian adalah hasil dari perjalanan panjang dalam satu disiplin tertentu. Seorang ahli jantung tetap harus bertanya kepada ahli saraf. Seorang profesor fisika tetap awam di hadapan ahli faraid.

Awam bukan lawan dari cerdas. Awam juga bukan lawan dari saleh. Awam adalah lawan dari ahli.

Seseorang dapat menjadi Muslim yang taat, rajin shalat, gemar membaca Al-Qur’an, dan berakhlak baik, tetapi tetap awam dalam ilmu agama. Kesalehan tidak otomatis melahirkan keahlian, sebagaimana memakai telepon pintar setiap hari tidak otomatis menjadikan seseorang ahli teknologi digital. Kedekatan dengan sesuatu tidak selalu berarti penguasaan terhadap ilmunya.

Lalu, mengapa sebagian orang merasa malu disebut awam dalam agama?

Boleh jadi, karena agama sudah melekat pada identitas dirinya. Disebut awam dalam ilmu kedokteran terasa biasa karena ia memang bukan dokter. Namun, disebut awam dalam ilmu agama dianggap sama dengan disebut tidak beragama. Padahal, keduanya sangat berbeda. Mengakui bahwa kita bukan ahli agama sama sekali tidak berarti kita kurang beriman. Pengakuan itu justru dapat menjadi tanda kejujuran dan kehati-hatian dalam beragama.

Ada pula sebab lain yang lebih halus: ilmu agama mempunyai daya tarik yang sangat besar. Ia berbicara tentang Tuhan, kebenaran, dosa, pahala, hidup, mati, dan nasib manusia setelah meninggalkan dunia. Otoritas agama juga mempunyai pengaruh moral yang kuat di tengah masyarakat. Karena keagungan itulah banyak orang ingin berada dekat dengannya. Bahkan, orang yang tidak menempuh jalan keilmuannya pun tergoda untuk tampak menguasainya.

Sayangnya, rasa tertarik kadang berubah menjadi keberanian berbicara. Kekaguman berubah menjadi pengakuan kepakaran. Orang tidak malu mengaku memahami sesuatu yang sesungguhnya belum ia kuasai.

Sebaliknya, ulama yang matang justru tidak malu mengakui dirinya awam dalam bidang lain. Ilmu agama telah mengajarinya bahwa manusia tidak harus mengetahui segala sesuatu. Ada wilayah yang dikuasainya dan ada wilayah yang harus diserahkannya kepada orang lain. Ia tidak merasa rendah karena bertanya kepada dokter. Ia tidak kehilangan wibawa ketika meminta bantuan insinyur. Kealimannya tidak membuatnya harus menjadi ahli di semua meja.
Mengapa?

Sebab, salah satu buah ilmu agama adalah tawāḍu‘: kemampuan menempatkan diri secara tepat di hadapan Allah, ilmu, dan sesama manusia. Makin dalam seorang ulama memasuki ilmu, makin banyak batas ketidaktahuan yang dilihatnya. Ia memahami betapa berat berbicara atas nama agama. Karena itu, kalimat “saya tidak tahu” tidak dipandang sebagai aib. Kalimat tersebut adalah pagar yang melindunginya dari mengatakan sesuatu tanpa ilmu.

Imam Muḥammad Māḍī Abū al-’Azā’im, ketika membahas orang-orang yang mempelajari ilmu dunia, menegaskan pentingnya menghiasi ilmu dengan kerendahan hati. Beliau kemudian menawarkan prinsip yang sangat indah:

أَنْ كُلَّ مُسْلِمٍ يَرَى لِأَخِيهِ مَزِيَّةً لَيْسَتْ فِيهِ فَيَطْلُبُهَا بِطَرِيقِهَا الَّذِي يُوصِلُ إِلَيْهَا

“Setiap Muslim hendaknya melihat pada saudaranya suatu kelebihan yang tidak ada pada dirinya, lalu mencarinya melalui jalan yang dapat mengantarkannya kepada kelebihan tersebut.”

Pangkal kerendahan hati intelektual terdapat pada kalimat: kelebihan yang tidak ada pada dirinya. Ada ilmu yang dimiliki orang lain dan tidak kita miliki. Ada wilayah yang dapat kita bicarakan dengan otoritas, ada pula wilayah yang mengharuskan kita duduk sebagai murid.

Lebih menarik lagi, Imam Abū al-’Azā’im menggunakan ungkapan bi ṭarīqihā, melalui jalannya. Setiap ilmu memiliki jalan. Ilmu kedokteran mempunyai jalannya. Ilmu teknik memiliki jalannya. Ilmu agama pun mempunyai jalan berupa guru, bahasa, kitab, metode, disiplin, dan proses belajar yang panjang. Tidak adil menuntut seseorang menempuh pendidikan bertahun-tahun sebelum berbicara tentang kesehatan, tetapi membiarkan siapa saja berbicara tentang agama hanya karena pandai menyusun kata-kata.

Imam Abū al-’Azā’im mengibaratkan hubungan antarpemilik keahlian seperti satu tubuh. Setiap anggota memberikan manfaat kepada tubuh, sementara anggota itu sendiri hidup karena ditopang oleh keseluruhan tubuh. Ulama membutuhkan dokter dan insinyur. Dokter dan insinyur membutuhkan ulama. Mengakui keahlian orang lain tidak merendahkan ilmu sendiri. Justru di situlah ilmu menemukan adabnya.

Tentu, peringatan serupa berlaku bagi ulama. Keahlian dalam agama tidak memberinya hak berbicara serampangan tentang kedokteran, teknologi, ekonomi, atau bidang lain. Namun, kelancangan seorang tokoh agama dalam urusan sains tidak dapat dijadikan pembenaran bagi ilmuwan untuk melakukan kelancangan serupa dalam agama. Kesalahan tidak menjadi benar hanya karena dilakukan secara bergantian.

Maka, tidak perlu tersinggung ketika disebut awam dalam ilmu agama. Yang memalukan bukanlah menjadi awam, melainkan berbicara sebagai ahli padahal tidak menempuh jalan keahliannya. Orang awam yang sadar akan mencari guru. Orang awam yang tersinggung justru sibuk menggurui.
Keagungan ilmu agama tidak memberi hak kepada semua orang untuk mengaku menguasainya. Keagungan itu seharusnya membuat siapa pun lebih berhati-hati ketika mendekati pintunya.

Para ulama tidak malu berkata, “Ini bukan bidang saya,” karena ilmu telah mengajarkan batas. Sebagian orang justru malu mengaku awam karena kepakaran telah berubah menjadi harga diri.

Padahal, orang yang benar-benar berilmu tidak harus tampak mengetahui semuanya.
Ia hanya harus jujur tentang apa yang diketahuinya—dan apa yang tidak diketahuinya.

R. Marpu Muhidin Ilyas
Penulis

R. Marpu Muhidin Ilyas

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, pendidik, dan penulis yang menekuni pendidikan Islam, hadis, pesantren, dan pembentukan manusia.

Profil penulis