Pemikiran

Khusyuk yang Kalah oleh Getar Ponsel

Takbiratul ihram sudah diucap, pikiran masih di linimasa. Solusi lalai ala kitab klasik ini.

Takbiratul ihram sudah diucapkan, tetapi pikiran masih di kolom komentar yang belum sempat dibalas. Sujud sudah turun, tetapi kepala masih menghitung siapa saja yang barusan membalas pesan. Salam penutup diucapkan, dan tangan yang menyentuh ponsel selalu lebih cepat daripada dzikir sesudah salat. Kita hadir secara badan, tetapi entah sejak kapan hati sudah punya jadwal sendiri untuk kembali ke linimasa.

Imam Abu al-Aza'im, dalam Hadits al-Jumu'ah, menjelaskan bahwa salat itu punya bentuk dan punya ruh, dan keduanya tidak sama.

Bentuknya adalah gerakan, bacaan, dan rukun-rukunnya. Ruhnya adalah niat, keikhlasan, dan hudhurul qalbi, hadirnya hati. Beliau membuat perumpamaan yang cukup menampar. Salat tanpa hadirnya hati itu seperti seorang pelayan raja yang diperintah menghadiahkan seorang gadis kepada rajanya, lalu yang dihadiahkan ternyata mayat, bukan orang hidup. Gerakannya sama persis dengan hadiah yang semestinya, tetapi yang diserahkan sudah tidak bernyawa.

Lalu beliau menulis satu larangan yang, jika dibaca hari ini, terasa seperti ditujukan langsung kepada kita.

وَلَا تَقُلِ اللهُ أَكْبَرُ وَفِي قَلْبِكَ شَيْءٌ أَكْبَرُ مِنَ اللهِ تَعَالَى

"Jangan kau ucapkan Allahu Akbar, sedangkan di dalam hatimu ada sesuatu yang kau anggap lebih besar daripada Allah."

Ganti saja bayangannya. Dulu yang beliau maksud mungkin jabatan, harta, atau pujian orang. Hari ini, yang paling sering menang dari Allahu Akbar justru getaran kecil di saku, atau bayangan notifikasi yang mungkin sedang menumpuk sementara kita berdiri menghadap-Nya. Kalimat itu diucapkan lisan, tetapi kalah oleh sesuatu yang jauh lebih remeh di dalam hati.

Kabar baiknya, Imam Abu al-Aza'im tidak berhenti pada teguran. Beliau menuliskan jalan keluarnya, dan jalan keluar itu tidak menuntut kesempurnaan sekaligus.

Bila hati tak kunjung hadir sepanjang salat, kata beliau, jangan buru-buru mengulang salatnya dari awal. Hitung saja kira-kira berapa rakaat yang lewat dalam kelalaian, lalu tambahkan salat sunah sepadan dengan itu, dan makin sering hati lalai, makin diperbanyak sunahnya, sampai hati benar-benar hadir. Kelalaian ditambal dengan kesungguhan berikutnya, bukan dengan penyesalan yang berhenti di rasa bersalah saja.

Masih di kitab yang sama, pada bagian tentang puasa Ramadan, beliau menyebut satu tingkatan puasa yang jarang dibahas orang. Tingkatan tertinggi bukan sekadar menahan lapar dan menjaga anggota badan dari maksiat, melainkan menjaga hati dari pikiran yang bercabang ke mana-mana dan bisikan yang berdatangan, lalu memusatkannya semata-mata pada dzikrullah. Coba renungkan, bukankah itu ujian yang sama persis dengan yang kita hadapi setiap kali mencoba diam sejenak dari ponsel, dan pikiran justru langsung mencari-cari alasan untuk kembali memeriksanya?

Selamat mencoba satu hal kecil malam ini. Taruh ponsel di luar sajadah, lalu hitung berapa rakaat yang perlu ditambah sebelum hati sungguh-sungguh sampai kepada-Nya.

R. Marpu Muhidin Ilyas
Penulis

R. Marpu Muhidin Ilyas

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, pendidik, dan penulis yang menekuni pendidikan Islam, hadis, pesantren, dan pembentukan manusia.

Profil penulis