Pemikiran

Ikhlas Tidak Menunggu Cukup

Ikhlas tidak menunggu honor cukup; ia membuat kerja ringan, serta membuka banyak pintu rezeki Allah.

“Saya akan bekerja lebih ikhlas kalau honornya sudah layak.”

Kalimat seperti ini terdengar masuk akal. Bahkan tampak seperti perjuangan untuk keadilan. Tetapi, pernahkah kita memeriksa kembali isi hati di baliknya? Benarkah persoalannya semata-mata kelayakan penghasilan? Ataukah kelayakan sedang dijadikan bungkus untuk menutupi krisis keikhlasan?

Pertanyaan ini harus dijawab oleh diri sendiri.

Sebab, menuntut kelayakan selalu tampak terhormat. Ada istilah hak, profesionalisme, kesejahteraan, dan keadilan di dalamnya. Semua istilah itu benar. Tetapi, istilah yang benar tetap bisa dipakai untuk membenarkan hati yang keliru. Ujung-ujungnya, kita baru mau bekerja dengan baik setelah hitungan materi dianggap cocok.

Inilah masalahnya.

Ikhlas tidak pernah menunggu penghasilan standar. Ikhlas juga tidak ditentukan oleh besar kecilnya honor. Saat Anda mengerjakan kebaikan tanpa dibayar, ikhlas wajib. Ketika kemudian diberi honor kecil, ikhlas tetap wajib. Bahkan ketika penghasilan naik seribu kali lipat, kewajiban ikhlas tidak ikut bergeser sedikit pun.

Sebab ikhlas bukan persoalan nominal.

Imam Muhammad Madi Abu al-‘Azaim menempatkan keikhlasan sebagai pokok dari segala pokok pembahasan. Dalam *al-Ṭarīq ilā Allāh*, beliau menulis:

> هَذَا هُوَ مَبْحَثُ الْمَبَاحِثِ الَّذِي تَجِبُ الْعِنَايَةُ بِهِ، وَهُوَ الْمَقْصُودُ بِالذَّاتِ مِنْ كُلِّ مَوَاضِيعِنَا هَذِهِ، لِأَنَّ اللهَ جَلَّ جَلَالُهُ مَا خَلَقَ الْخَلْقَ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَاحِدَةٍ هِيَ عِبَادَتُهُ بِإِخْلَاصٍ

“Inilah pokok dari segala pembahasan yang wajib mendapat perhatian. Inilah tujuan utama seluruh pembahasan, sebab Allah Yang Mahaagung menciptakan makhluk untuk satu hikmah, yaitu beribadah kepada-Nya dengan ikhlas.”

Maka, ikhlas melekat pada keberadaan kita sebagai hamba. Bukan pada kontrak kerja. Bukan pada slip honor. Bukan pula pada penilaian apakah pendapatan sudah sesuai standar atau belum.

Slip honor hanya mencatat satu pintu. Ia bukan peta seluruh rezeki Allah.

Kita sering mengira bahwa kehidupan bergantung kepada satu sumber pendapatan. Bila pintu itu kecil, kita merasa rezeki juga kecil. Bila pintu itu tertutup, kita khawatir seluruh rezeki akan berhenti. Padahal pintu tempat kita bekerja hanyalah satu pintu dari begitu banyak jalan yang berada dalam kekuasaan Allah swt.

Jangan salah mengira satu pintu sebagai seluruh rumah.

Imam Abu al-‘Azaim menjelaskan bahwa Allah telah menyediakan kebutuhan manusia dengan limpahan yang bahkan melebihi kebutuhannya. Beliau mengajak manusia melihat air, udara, cahaya, panas, dan kekayaan bumi sebagai bukti bahwa karunia Allah datang dari arah yang sangat luas. Bahkan beliau menulis:

> وَجَعَلَ لَهُ سُبْحَانَهُ فِي كُلِّ حَرَكَةٍ يَتَحَرَّكُهَا بَرَكَةً، إِمَّا عَاجِلَةً لَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِمَّا آجِلَةً لَهُ فِي يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Allah menjadikan pada setiap gerak yang dilakukan manusia sebuah keberkahan, adakalanya segera diterima di dunia dan adakalanya diberikan kelak pada hari kiamat.”

Nah, di sinilah keikhlasan menemukan hubungannya dengan rezeki. Orang yang ikhlas tidak membatasi karunia Allah pada angka yang diterima setiap bulan. Ia bekerja di satu tempat, tetapi meyakini rezekinya bisa datang dari puluhan arah. Bisa melalui kesehatan. Bisa melalui keluarga yang tenteram. Bisa melalui pertolongan orang lain. Bisa melalui kesempatan baru. Bisa melalui kebutuhan yang tiba-tiba Allah cukupkan tanpa pernah masuk dalam perhitungan.

Bisa jadi, pekerjaan yang secara nominal terasa belum mencukupi justru sedang membuka pintu-pintu rezeki lain yang jauh lebih besar.

Tetapi, kita sering terlalu sibuk menatap satu angka. Akhirnya puluhan karunia lain tidak terlihat.

Orang yang ikhlas juga lebih enjoy bekerja. Ia tidak membawa timbangan honor ke setiap gerakan. Ia tidak menghitung berapa rupiah nilai setiap tenaga yang dikeluarkan. Hatinya tidak terus-menerus berbisik, “Saya dibayar berapa untuk melakukan ini?”

Bukan karena ia tidak memahami uang.

Ia memahami makna yang lebih mahal dari uang.

Keikhlasan membebaskan seseorang dari kelelahan batin akibat terlalu banyak berhitung. Tugas tetap berat, tetapi hati tidak ikut memberatkannya. Honor mungkin kecil, tetapi jiwa tidak ikut mengecil. Pekerjaan mungkin banyak, tetapi dadanya tidak terus dipenuhi keluhan.

Bukankah kerja menjadi sangat melelahkan ketika setiap tugas selalu dibandingkan dengan bayaran?

Maka berhati-hatilah terhadap bungkus-bungkus ketidakikhlasan. Bisa saja kita menyebutnya perjuangan hak. Bisa saja kita menamainya standar profesional. Bisa juga kita membungkusnya dengan kata kesejahteraan. Padahal isi sebenarnya hanyalah keengganan berbuat sebelum keuntungan terlihat jelas.

Bacalah tulisan ini untuk diri sendiri. Jangan buru-buru mengirimkannya kepada bawahan, pegawai, atau teman kerja. Sebab keikhlasan pertama-tama adalah cermin, bukan palu untuk memukul orang lain.

Bila Anda seorang pimpinan, bekerjalah dengan ikhlas. Bila Anda seorang staf, bekerjalah dengan ikhlas. Bila hari ini belum dibayar, ikhlaslah. Bila besok dibayar besar, tetaplah ikhlas.

Jangan menunggu cukup untuk ikhlas.

Ikhlaslah, lalu lihatlah betapa luas cara Allah mencukupkan hidup Anda.

R. Marpu Muhidin Ilyas
Penulis

R. Marpu Muhidin Ilyas

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, pendidik, dan penulis yang menekuni pendidikan Islam, hadis, pesantren, dan pembentukan manusia.

Profil penulis