Setiap Senin lapangan sekolah kita rapi. Pancasila dibacakan dengan lantang, ditirukan ratusan murid, kelima silanya hafal di luar kepala sejak kelas satu. Hari ini, di peringatan Kesaktian Pancasila, upacara itu bahkan lebih khidmat dari biasanya.
Tetapi coba tengok apa yang terjadi begitu barisan dibubarkan.
Anak yang tadi mengucap "kemanusiaan yang adil dan beradab" kembali merundung teman sebangkunya. Anak yang fasih melafalkan "persatuan" kembali membentuk geng dan menyisihkan yang berbeda. Nilai-nilai itu hafal di lidah, tetapi entah sejak kapan hilang dari perbuatan. Lalu kita bertanya-tanya, mengapa hafalan sebanyak itu tidak kunjung menjelma menjadi karakter.
Imam Abu al-Aza'im, dalam Muhkamat ash-Shulh al-Kubra, menaruh jawabannya jauh sebelum republik ini berdiri. Beliau menegaskan bahwa yang menjamin kehidupan yang baik bukanlah slogan, melainkan akhlak yang dijalani.
اَلْأَخْلَاقُ وَالْعَوَائِدُ الْإِسْلَامِيَّةُ هُمَا اللَّذَانِ يَضْمَنَانِ لِلْإِنْسَانِ الْعِيشَةَ الْمَرْضِيَّةَ فِي الدُّنْيَا فِي بُحْبُوحَةِ الْحُرِّيَّةِ وَالْمُسَاوَاةِ
"Akhlak dan kebiasaan islami itulah yang menjamin manusia hidup penuh keridaan di dunia, dalam kelapangan kemerdekaan dan kesetaraan."
Perhatikan dua kata di ujungnya: kemerdekaan dan kesetaraan. Nilai-nilai yang setiap Senin kita eja itu ternyata tidak lahir dari upacara yang khidmat, melainkan dari akhlak yang benar-benar dikerjakan. Keadilan tidak turun ke bumi karena dihafal. Persatuan tidak tumbuh karena dinyanyikan. Keduanya hanya hadir ketika seseorang memaksa dirinya berlaku adil dan bersatu, hari demi hari.
Lalu di titik mana kita keliru selama ini? Imam Abu al-Aza'im menunjuk obat yang justru paling sering Anda lewati.
اَلدَّوَاءُ النَّافِعُ وَالْعِلَاجُ الشَّافِي هُوَ قَهْرُ النَّفْسِ عَلَى الْعَمَلِ
"Obat yang bermanfaat dan penyembuh yang mujarab itu adalah memaksa diri untuk beramal."
Bacalah pelan kata "memaksa diri" itu. Beliau tidak berkata obatnya adalah menghafal, mengucap, atau mengupacarakan. Obatnya adalah amal yang diperjuangkan melawan keinginan sendiri. Sebuah nilai baru menjadi karakter ketika ia dikerjakan justru pada saat berat dikerjakan, bukan ketika ia lancar dilafalkan pada saat mudah dilafalkan.
Di sinilah pendidikan karakter kita sering tergelincir menjadi pendidikan hafalan. Anda mengukur keberhasilan dari seberapa fasih anak menyebut nilai, bukan dari seberapa berani ia menegakkannya. Padahal anak yang hafal seluruh sila tetapi tega menyontek dan merundung, sesungguhnya sedang membuktikan bahwa nilai itu belum pernah turun dari lidahnya ke dadanya.
Kesaktian sebuah nilai tidak pernah dibuktikan di mimbar upacara. Ia dibuktikan di kantin ketika seorang anak memilih jujur meski rugi, di lorong sekolah ketika ia membela yang dirundung meski sendirian. Selama nilai hanya Anda minta untuk dihafal dan diucapkan, ia akan tetap sakti di atas kertas dan tak berdaya di dalam dada.