Pemikiran

Gelar yang Tidak Mengangkat

Gelar mengangkat nama, tetapi ilmu yang diamalkanlah yang mengangkat derajat manusia di sisi Allah.

Ijazah sudah dibingkai dan dipajang di ruang tamu. Gelar sudah bertambah di depan dan di belakang nama. Sertifikat pelatihan menumpuk di dalam map, dan sebagian sudah dipamerkan di media sosial lengkap dengan fotonya.

Semua itu benar, semua itu perlu. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang kita berani ajukan pada diri sendiri.

Apakah semua gelar itu ikut mengangkat derajat Anda di sisi Allah, atau hanya menaikkan posisi Anda di mata manusia?

Imam Abu al-Aza’im, dalam An-Nūr al-Mubīn, membawakan sebuah riwayat yang memisahkan dua hal itu dengan tegas:

إِنَّ الْحِكْمَةَ تَزِيدُ الشَّرِيفَ شَرَفًا، وَتَرْفَعُ الْعَبْدَ الْمَمْلُوكَ حَتَّى تُجْلِسَهُ مَجَالِسَ الْمُلُوكِ

“Sesungguhnya hikmah itu menambah kemuliaan bagi orang yang sudah mulia, dan mengangkat seorang budak yang dimiliki sampai mendudukkannya di majelis para raja.”

Perhatikan kata kuncinya. Bukan gelar yang mengangkat budak itu ke majelis raja, melainkan hikmah. Ada orang bergelar tinggi tetapi tidak beranjak dari tempatnya. Sebaliknya, ada orang yang namanya tak dihiasi gelar apa-apa tetapi ilmunya mengangkat ia sampai ke tempat yang paling terhormat.

Pembedanya sederhana. Apakah ilmu itu berhenti sebagai catatan di kertas, atau turun menjadi hikmah yang mengubah cara ia hidup?

Nah, di sinilah pendidikan kita sering tergelincir tanpa terasa. Kita sibuk mengejar tanda kelulusan, tetapi lupa menanyakan apa yang sudah lulus dari dalam dada sendiri. Kita mengukur kenaikan ilmu dengan tambahan huruf di belakang nama. Padahal boleh jadi nama bertambah panjang, tetapi jarak antara ilmu dan amal justru semakin jauh.

Imam Abu al-Aza’im bahkan menyebut satu jenis ilmu yang bukannya mengangkat, melainkan menghinakan pemiliknya. Beliau membawakan peringatan tentang orang yang memakai ilmu untuk berdebat dan memamerkan diri:

فَإِنَّ الْمُمَارِيَ بِهِ مَهْجُورٌ، وَالْمُرَائِيَ بِهِ مَحْقُورٌ لَا يَرْتَفِعُ

“Sebab orang yang memakai ilmunya untuk berdebat akan ditinggalkan, dan orang yang memakainya untuk pamer akan terhina, tidak terangkat.”
Bacalah sekali lagi kata terakhirnya. Tidak terangkat.

Padahal ilmunya mungkin persis sama dengan ilmu orang yang diangkat sampai ke majelis raja tadi. Kitab yang dibaca sama. Guru yang mengajar boleh jadi sama. Gelar akademiknya pun mungkin sama. Tetapi satu ilmu mengangkat dan ilmu lainnya menjatuhkan.

Lalu apa pembedanya?

Untuk apa ilmu itu dicari dan apa yang dilakukan setelah ilmu itu diketahui.

Abu al-Darda’ r.a., sahabat Rasulullah saw yang terkenal dengan keluasan ilmunya, justru takut pada persoalan ini. Ibn ‘Abd al-Barr meriwayatkan perkataan beliau:

لَا أَخَافُ أَنْ يُقَالَ لِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ، مَا عَمِلْتَ فِيمَا جَهِلْتَ؟ وَلَكِنْ أَخَافُ أَنْ يُقَالَ لِي: يَا عُوَيْمِرُ، مَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا عَلِمْتَ؟

“Aku tidak takut bila pada hari kiamat ditanya, ‘Wahai Abu al-Darda’, apa yang engkau lakukan terhadap perkara yang tidak engkau ketahui?’ Tetapi aku takut bila ditanya, ‘Wahai ‘Uwaimir, apa yang engkau lakukan terhadap ilmu yang telah engkau ketahui?’”

Aneh bukan?

Orang berilmu justru tidak terlalu takut ditanya tentang apa yang belum diketahuinya. Sebab ketidaktahuan masih mempunyai jawaban: memang belum tahu. Abu al-Darda’ takut pada pertanyaan yang jauh lebih sulit. Anda sudah tahu. Lalu, Anda apakan pengetahuan itu?

Di situlah beratnya menjadi orang berilmu.
Semakin banyak yang diketahui, semakin banyak pula yang kelak dapat ditanyakan. Maka bertambahnya ilmu sesungguhnya bukan hanya bertambahnya kemuliaan. Bertambah pula tanggung jawab.

Coba Anda tengok kembali dinding ruang tamu itu. Bila semua bingkai di sana hanya menaikkan posisi Anda di mata tamu yang datang, tanpa menambah satu takut pun kepada Allah, tanpa menambah satu kesabaran pun dalam mengajar, tanpa menambah satu keadilan pun dalam bersikap, maka yang bertambah baru gelarnya.
Bukan derajatnya.

Ilmu memang wajib dicari, dan mencarinya adalah kemuliaan. Tetapi hikmah tidak pernah otomatis menempel pada gelar. Hikmah lahir ketika ilmu masuk ke dalam sikap, keputusan, ucapan, dan perbuatan seseorang.

Ada satu peristiwa yang sangat t tepat untuk perenungan ini.

Dalam sebuah sidang promosi doktor di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Ahmad Sarbini, Direktur Pascasarjana, menutup sidang bukan semata dengan ucapan selamat. Beliau menyampaikan taushiyah akademik yang singkat. Gelar doktor yang baru saja diraih bukan garis akhir. Ia membawa tanggung jawab baru yang kelak ditanya.

Beliau kemudian mengingatkan hadis riwayat Imam Tirmidzi tentang hisab seorang hamba pada hari kiamat:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan darinya, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia pakai sampai lusuh.”

Perhatikan pertanyaan tentang ilmu itu.

Bukan, “Berapa banyak yang engkau ketahui?”
Bukan pula, “Gelar akademik apa yang telah engkau raih?”
Pertanyaannya justru jauh lebih pendek: apa yang engkau lakukan dengan ilmumu?

Ternyata sidang yang meluluskan seseorang di dunia baru sidang pertama. Ada sidang kedua yang jauh lebih berat. Di sana tidak ada jawaban yang bisa dipoles, tidak ada revisi yang bisa diajukan, dan tidak ada gelar yang bisa dipajang.

Abu al-Darda’ sudah takut kepada pertanyaan itu jauh sebelum kita memenuhi dinding rumah dengan ijazah dan sertifikat.

Maka setiap kali satu gelar baru ditambahkan pada nama, seharusnya satu pertanyaan ikut ditambahkan ke dalam dada: ilmu apa yang bertambah, amal apa yang berubah?
Sebab kelak, di majelis yang paling tinggi itu, gelar tidak akan maju menjawab pertanyaan untuk pemiliknya.
Dan, tak ada satu bingkai pun yang bisa dibawa serta.

Wallahu A'lam

R. Marpu Muhidin Ilyas
Penulis

R. Marpu Muhidin Ilyas

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, pendidik, dan penulis yang menekuni pendidikan Islam, hadis, pesantren, dan pembentukan manusia.

Profil penulis