Banyak orang sanggup menunggu dokter dua jam di ruang tunggu yang sempit, tanpa mengeluh, sambil sesekali melirik nomor antrean. Banyak orang sanggup menunggu pertandingan final sejak satu jam sebelum peluit pertama, lengkap dengan camilan dan kopi. Banyak orang sanggup mengantre tiket, mengantre bensin, dan mengantre bakso yang sedang ramai dibicarakan. Tetapi menunggu guru ngaji lima belas menit terasa lama sekali.
Ya, lima belas menit.
Bahkan sering tidak sampai. Sepuluh menit sebelum guru datang, majelis sudah bubar, dengan alasan yang rapi dan terdengar wajar, bahwa gurunya belum datang.
Perhatikan bahwa persoalannya bukan pada lama menunggu. Persoalannya pada seberapa mahal seseorang menilai barang yang ditunggunya. Orang menunggu dokter berjam-jam karena yakin ada penyakit yang harus disembuhkan. Orang menunggu final karena yakin ada yang tidak boleh terlewat. Adapun ketika menunggu guru, keyakinan semacam itu tidak ada di dada.
Dan, sejujurnya, kita jarang memeriksa keyakinan itu.
Imam Abu al-Aza'im dalam Ushul al-Wushul li Ma'iyyat ar-Rasul mengutip sebuah khabar dari Abu Dzar yang menakar majelis ilmu dengan timbangan yang tidak pernah Anda pakai.
حُضُورُ مَجْلِسِ عِلْمٍ أَفْضَلُ مِنْ عِيَادَةِ أَلْفِ مَرِيضٍ
"Menghadiri satu majelis ilmu itu lebih utama daripada menjenguk seribu orang sakit."
Bacalah sekali lagi perbandingannya. Bukan seribu menit menunggu, melainkan seribu orang sakit. Riwayat itu meletakkan majelis ilmu justru di atas urusan yang paling Anda dahulukan hari ini.
Dalam khabar yang sama disebut pula bahwa menghadiri majelis zikir lebih utama daripada salat seribu rakaat, dan menghadiri majelis ilmu lebih utama daripada mengantar seribu jenazah. Ketika ditanya bagaimana dengan membaca Al-Qur'an, jawaban yang datang justru berupa pertanyaan balik. Apakah bacaan Al-Qur'an bermanfaat tanpa ilmu?
Imam Abu al-Aza'im menyusulkan satu kebiasaan Abdullah bin Rawahah. Beliau memanggil para sahabat dengan kalimat yang pendek sekali.
Mari, kita beriman sejenak.
Lalu mereka duduk, dan beliau mengingatkan mereka tentang Allah, tauhid, serta akhirat. Kadang Rasulullah saw keluar dan mendapati mereka sedang berkumpul, lalu mereka pun terdiam karena sungkan. Rasulullah saw justru ikut duduk bersama mereka dan menyuruh mereka melanjutkan, seraya bersabda bahwa dengan itulah beliau diperintah dan untuk itulah beliau diutus.
Renungkan kata kerjanya. Mereka duduk. Kita justru berdiri lalu pulang.
Perhatikan pula siapa yang mengalah dalam kisah itu. Bukan murid yang duduk menyusul, melainkan gurunya sendiri, dan beliau adalah manusia paling mulia. Adapun kita hari ini merasa berhak pergi hanya karena guru terlambat sepuluh menit.
Setidaknya ada dua hal yang bisa Anda kerjakan pekan ini. Pertama, datanglah lebih awal satu kali saja, lalu rasakan sendiri bedanya duduk menunggu guru dengan duduk menunggu nomor antrean di klinik. Cara kedua, ketika terpaksa menunggu, isilah waktunya dengan membaca atau berzikir, sebab menunggu guru sambil berzikir sebenarnya bukan lagi menunggu, melainkan sudah termasuk bagian dari majelisnya.
Penyakit badan memang mendesak, dan wajar bila orang mengejar kesembuhannya sampai rela mengantre sepanjang apa pun. Tetapi penyakit hati tidak pernah membuat penderitanya mengaduh, dan justru itulah yang membuatnya jauh lebih berbahaya. Semoga pekan depan, ketika guru terlambat sepuluh menit, Anda masih duduk di tempat.