Pemikiran

Di Hadapan Dokter Kita Jujur, di Hadapan Guru Kita Gengsi

Pada dokter kita mengaku tidak tahu, pada guru kita bergengsi. Adab murid menurut kitab ini.

Ketika sakit, Anda berubah menjadi orang yang paling patuh. Obat sepahit apa pun ditelan. Pantangan seberat apa pun dijalani. Anda mengaku terus terang tidak tahu apa penyakitnya, lalu menyerahkan diri sepenuhnya kepada dokter, bahkan kepada dokter muda yang usianya jauh di bawah Anda. Tidak ada gengsi di ruang praktik. Di sana cuma ada satu keinginan, yaitu sembuh.

Tetapi coba tengok cara kita menghadiri majelis ilmu.

Datang dengan hati yang penuh. Sebagian pikiran masih di pekerjaan, sebagian lagi di layar ponsel. Telinga mendengar, tetapi di dalam dada sudah menyelinap suara, "Ah, ini sih saya juga sudah tahu." Anda duduk di hadapan guru bukan sebagai orang yang butuh, melainkan sebagai orang yang sekadar menambah koleksi.
Imam Abu al-Aza'im, dalam An-Nur al-Mubin, membongkar salah paham ini dengan sebuah perbandingan yang menohok. Menuntut ilmu, kata beliau, seharusnya persis seperti berobat.

وَأَنْ تَكُونَ أَمَامَهُ كَمَرِيضٍ يَسْتَشْفِي، يَشْعُرُ بِآلَامِ الْجَهْلِ كَمَا يَشْعُرُ الْمَرِيضُ بِآلَامِ الْمَرَضِ

"Hendaklah engkau berada di hadapannya laksana orang sakit yang mencari kesembuhan, yang merasakan perihnya kebodohan sebagaimana orang sakit merasakan perihnya penyakit."

Bacalah pelan-pelan bagian keduanya. Perihnya kebodohan. Di sinilah letak persoalan kita. Orang sakit tahu ia sakit, maka ia berobat. Tetapi orang bodoh sering tidak merasa bodoh, maka ia datang ke majelis tanpa rasa butuh sama sekali. Bagaimana obat akan bekerja pada orang yang tidak merasa dirinya sakit?

Imam Abu al-Aza'im lalu menyebut dua syarat yang mendahului semuanya. Pertama, kosongkan dulu ruang di dalam dada.

أَنْ تُفَرِّغَ قَلْبَكَ وَبَدَنَكَ مِنَ الشَّوَاغِلِ بِقَدْرِ اسْتِطَاعَتِكَ

"Hendaklah engkau mengosongkan hati dan badanmu dari segala kesibukan semampumu."

Hati yang sudah penuh tidak bisa diisi apa-apa lagi. Gelas yang penuh, dituangi seteko air pun, hanya akan tumpah membasahi meja. Maka datang ke majelis dengan pikiran yang masih terbagi ke mana-mana sama saja dengan menyodorkan gelas yang sudah penuh.

Syarat kedua, tanggalkan perasaan bahwa kita sudah tahu.

وَأَنْ تَتَلَقَّى مِنْهُ الْعِلْمَ بِقَبُولٍ وَإِقْبَالٍ بِدُونِ الْتِفَاتٍ أَوْ شُعُورٍ مِنْ نَفْسِكَ بِأَنَّكَ تَعَلَّمْتَ شَيْئًا

"Hendaklah engkau menerima ilmu darinya dengan penuh penerimaan dan kesungguhan, tanpa berpaling dan tanpa merasa dalam dirimu bahwa engkau sudah pernah tahu sesuatu."

Perasaan "saya sudah tahu" itulah yang paling banyak menutup pintu. Ia membuat Anda hadir secara badan tetapi menolak secara batin. Anda mendengar untuk membandingkan, bukan untuk menerima. Anda menilai gurunya, bukan menyembuhkan diri.

Beliau bahkan menegaskan satu hal yang terdengar ganjil, bahwa satu-satunya tempat seorang mukmin boleh merendah sampai seperti merayu hanyalah ketika menuntut ilmu, sebab Rasulullah saw bersabda bahwa merendahkan diri bukan akhlak mukmin, kecuali dalam mencari ilmu.

Sekarang bandingkan sekali lagi. Untuk kesehatan badan yang toh berujung pada kematian, kita rela mengaku tidak tahu di hadapan dokter. Untuk kesehatan hati yang menentukan hidup sesudah mati, mengapa kita justru datang membawa gengsi ke hadapan guru?

R. Marpu Muhidin Ilyas
Penulis

R. Marpu Muhidin Ilyas

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, pendidik, dan penulis yang menekuni pendidikan Islam, hadis, pesantren, dan pembentukan manusia.

Profil penulis