Gaji belum juga masuk, cicilan bulan ini sudah antre di kepala. Ponsel yang dulu terasa canggih sekarang terasa ketinggalan zaman, padahal baru dipakai dua tahun. Tetangga ganti mobil, linimasa penuh diskon, dan barang yang kemarin tidak terpikirkan sekarang terasa seperti kebutuhan mendesak. Lunas satu cicilan, muncul keinginan berikutnya, seolah ada yang memang dirancang untuk tidak pernah selesai.
Al-Qur'an sudah menggambarkan pola ini jauh sebelum ada cicilan tanpa bunga dan sistem bayar nanti.
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ
"Buatkanlah untuk mereka perumpamaan tentang kehidupan dunia, yaitu seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuh-tumbuhan di bumi menjadi subur karenanya, kemudian ia menjadi kering dan hancur diterbangkan angin." (QS Al-Kahf: 45)
Imam Abu al-Aza'im, dalam Mawarid Ahl ash-Shafa, membaca perumpamaan itu bukan sebagai celaan pada orang yang lupa bahwa air dan tumbuhan memang berumur pendek sejak awal. Tumbuhan subur karena air. Kita ikut riang karena barang baru. Tetapi keduanya sama-sama berjalan menuju satu akhir, kering dan diterbangkan angin, dan yang membedakan hanya kecepatannya.
Lalu, kalau semua yang dikejar itu memang akan pudar, apa yang sebenarnya sedang kita kejar?
Ayat berikutnya menjawabnya dengan satu kata yang jarang kita pikirkan artinya.
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan." (QS Al-Kahf: 46)
Zinah, kata itu, artinya perhiasan. Bukan kebutuhan. Perhiasan boleh dipakai, tetapi tidak pernah menjadi alasan seseorang tetap hidup. Rumah tetap berdiri tanpa gordennya diganti musim ini. Tubuh tetap sehat tanpa gawai keluaran terbaru. Zinah sudah naik pangkat menjadi kebutuhan di dalam kepala kita, itulah yang membuat cicilan terasa seperti kewajiban, padahal ayat ini sejak awal menyebutnya perhiasan.
Imam Abu al-Aza'im lalu merinci apa saja yang sungguh dibutuhkan manusia dari dunia, dan jumlahnya hanya tiga: afiah, yaitu kesehatan badan, qut, yaitu bahan hidup sehari-hari, dan aman, yaitu rasa tenang di tengah sesama. Selebihnya, sebanyak apa pun rupanya, tinggal masuk kategori perhiasan.
Coba tengok lagi daftar cicilan bulan ini. Berapa yang benar-benar menopang kesehatan, bahan hidup, dan rasa aman? Dan berapa yang sekadar perhiasan yang berhasil menyamar sebagai kebutuhan?
Bukan berarti perhiasan haram dimiliki. Kekeliruannya ada pada menukar ketenangan hati dengan cicilan demi perhiasan yang, seperti kata ayat pertama tadi, memang sudah dijadwalkan untuk kering dan diterbangkan angin. Rasa cukup bukan berhenti punya keinginan. Rasa cukup adalah berhenti mengira perhiasan sebagai kebutuhan!