Teman seangkatan naik jabatan. Tetangga baru saja membeli rumah kedua. Ada pula yang jualan sampingannya tembus ke luar negeri, sementara kita masih di titik yang sama sejak dua tahun lalu. Beranda media sosial pagi ini kembali menampilkan pencapaian orang lain, dan dada kita ikut sesak tanpa tahu sebabnya.
Orang zaman sekarang menamai perasaan itu FOMO, singkatan dari fear of missing out, rasa takut tertinggal begitu melihat pencapaian orang lain lewat di layar. Nama itu baru dan asing dari mulut orang Barat, tetapi perasaannya sendiri sudah lama dikenal, dan Imam Abu al-Aza'im menaruhnya di urutan pertama daftar penyakit hati.
Dalam Ath-Thariq ila Allah, pada pasal tentang membersihkan hati dari kotoran batin, beliau menyebut hasad sebagai yang paling buruk di antara semuanya. Definisinya sederhana, tetapi menohok.
اَلْحَاسِدُ حَاسِدٌ لِنِعْمَةِ اللهِ عَلَى الْغَيْرِ، وَذَلِكَ فِي خَزَائِنِ قُدْرَةِ اللهِ تَعَالَى لَا فِي خَزَائِنِهِ هُوَ
"Pendengki itu sesungguhnya mendengki nikmat Allah pada diri orang lain, padahal nikmat itu berasal dari gudang kekuasaan Allah, bukan dari gudang milik si pendengki sendiri."
Bacalah sekali lagi bagian akhirnya. Jabatan teman Anda tidak diambil dari jatah Anda. Rumah kedua tetangga Anda tidak mengurangi rezeki yang sedang menuju rumah Anda sendiri. Keduanya keluar dari gudang yang sama luasnya untuk semua orang, gudang milik Allah, bukan gudang terbatas yang isinya berkurang setiap kali ada orang lain mengambil bagian.
Nah, di titik inilah FOMO karier sebenarnya berpijak pada logika yang keliru. Logika itu menganggap rezeki jumlahnya tetap, seolah keberhasilan orang lain berarti jatah kita menyusut. Imam Abu al-Aza'im menyebut logika ini sebagai adab yang buruk, dan anehnya bukan kepada orang yang didengki, melainkan kepada Allah sendiri.
أَن قُلْ لِمَنْ كَانَ لِي حَاسِدًا: أَتَدْرِي عَلَى مَنْ أَسَأْتَ الْأَدَبَ؟ أَسَأْتَ عَلَى اللهِ فِي فِعْلِهِ لِأَنَّكَ لَمْ تَرْضَ لِي مَا وَهَبَ
"Katakanlah kepada siapa pun yang mendengkiku, tahukah kamu kepada siapa sebenarnya kamu berlaku tidak sopan? Kamu berlaku tidak sopan kepada Allah dalam perbuatan-Nya, sebab kamu tidak rela dengan apa yang telah Dia berikan."
Perhatikan arah keluhannya. Iri terhadap kenaikan jabatan teman, secara tidak langsung, adalah keberatan atas keputusan Allah membagikannya kepada orang itu. Kita sedang mengoreksi pembagian rezeki, bukan sekadar membandingkan pencapaian.
Imam Abu al-Aza'im juga mengutip hadis panjang riwayat Mu'adz bin Jabal tentang tujuh lapis langit, dan di tiap lapisnya ada malaikat yang menahan amal seorang hamba karena satu penyakit hati. Amal yang mengandung riya tertahan di langit kedua. Amal yang mengandung kesombongan tertahan di langit keempat. Amal yang mengandung ujub tertahan di langit kelima. Adapun di langit kelima itu juga, ada malaikat lain yang bertugas khusus untuk satu penyakit yang jauh lebih akrab dengan kita hari ini.
أَنَا مَلَكُ الْحَسَدِ، أَمَرَنِي رَبِّي أَلَّا أَدَعَ عَمَلَهُ يُجَاوِزُنِي إِلَى غَيْرِي، إِنَّهُ كَانَ يَحْسُدُ مَنْ يَتَعَلَّمُ وَيَعْمَلُ بِعِلْمِهِ، وَيَقَعُ فِيهِمْ
"Aku adalah malaikat khusus pencatat kedengkian. Tuhanku memerintahkanku agar tidak membiarkan amal orang ini melewatiku menuju yang lain, sebab dahulu ia mendengki orang yang belajar lalu mengamalkan ilmunya, dan ia menjelek-jelekkan mereka."
Ganti saja kata "belajar dan mengamalkan ilmu" dengan "berusaha dan mengembangkan usahanya," dan hadis itu langsung terasa ditulis untuk linimasa kita sendiri. Bukan orang yang malas yang biasanya kena penyakit ini. Justru orang yang shalatnya rajin, puasanya jalan, sedekahnya jalan, tetapi begitu melihat orang lain naik lebih dulu, lisannya mulai mencari-cari kekurangan orang itu. Amal sebanyak apa pun, kata hadis ini, berhenti di langit kelima kalau penyakit itu masih dipelihara.
Ada satu akibat yang Imam Abu al-Aza'im gambarkan, dan inilah yang paling terasa dalam FOMO karier.
وَلَا يَزَالُ الْحَاسِدُ فِي عَذَابٍ دَائِمٍ مَا دَامَ يَرَى النِّعْمَةَ عَلَى مَحْسُودِهِ
"Pendengki akan terus berada dalam siksaan yang tiada henti, selama ia masih melihat nikmat itu ada pada orang yang didengkinya."
Artinya siksaannya bukan nanti di akhirat saja. Siksaannya sedang berlangsung sekarang, setiap kali membuka aplikasi, setiap kali nama itu muncul di linimasa, setiap kali kabar baiknya terdengar dari mulut orang lain. Sementara orang yang didengki hidup tenang tanpa tahu ada yang tersiksa karena dirinya, si pendengki sendiri yang menanggung hukumannya, berulang-ulang, tanpa jeda.
Begitu rasa itu muncul, cukup ucapkan dalam hati bahwa rezeki itu keluar dari gudang Allah, bukan dari jatah kita, sebelum sempat berkomentar apa pun tentang pencapaian orang lain. Tanya juga pada diri sendiri, sanggupkah kita rida seandainya Allah membagikan hal yang sama kepada orang yang sekarang kita dengki.
Rezeki teman Anda tidak pernah mengambil rezeki Anda. Hasad hanya mengambil satu hal saja, yaitu amal Anda sendiri, di langit kelima, oleh malaikat yang sudah menunggu di sana.