Bulan ini masjid dan sekolah kita ramai. Spanduk maulid terpasang, shalawat dilantunkan bersahut-sahutan, marhaban dinyanyikan sampai serak. Kita menangis haru menyebut kelembutan dan kasih sayang beliau kepada umatnya. Semua itu indah, semua itu benar.
Tetapi Senin pagi, begitu masuk kelas, sebagian dari kita berubah menjadi orang yang persis berlawanan dengan sosok yang semalam kita puji.
Membentak murid yang lambat menangkap. Menyindir pertanyaan yang dianggap bodoh. Tergesa mengejar materi sampai tak sempat menunggu yang tertinggal. Mempermalukan seorang anak di depan teman-temannya. Lalu sorenya kita kembali bershalawat, seolah tidak ada yang janggal di antara keduanya.
Imam Abu al-Aza'im, dalam Basyair al-Akhyar fi Mawlid al-Mukhtar, mengingatkan siapa sebenarnya yang sedang kita rayakan kelahirannya.
رَسُولُ اللهِ ﷺ هُوَ الرَّحْمَةُ الْعَامَّةُ لِلْعَالَمِينَ
"Rasulullah saw adalah rahmat yang menyeluruh bagi seluruh alam."
Bacalah pelan kata "menyeluruh" itu. Rahmatnya tidak memilih-milih antara murid yang cerdas dan yang lambat, antara yang sopan dan yang menyebalkan. Lalu bandingkan dengan rahmat Anda di ruang kelas, yang sering hanya turun kepada murid pandai dan menguap begitu berhadapan dengan anak yang sulit diatur.
Dalam An-Nur al-Mubin, Imam Abu al-Aza'im menukil ayat yang seharusnya ditempel di setiap ruang guru.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ، وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
"Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras, niscaya mereka akan bubar meninggalkanmu." (QS Ali Imran: 159)
Perhatikan sebab dan akibatnya. Allah sendiri yang menegaskan, seandainya Nabi yang mulia itu kasar, umat akan lari meninggalkannya. Lalu apa yang membuat Anda mengira murid akan mencintai agama dari guru yang bengis? Setiap bentakan sesungguhnya sedang membubarkan satu hati dari majelis, pelan-pelan, sampai anak itu benci bukan hanya kepada gurunya, tetapi kepada pelajaran agamanya sekalian.
Beliau melanjutkan dengan menggambarkan akhlak Rasulullah saw dalam kata-kata yang berbaris rapat: lemah lembut sikapnya, mudah, ringan, murah hati, dan penuh kasih. Lima sifat, dan tak satu pun di antaranya berbunyi galak, tergesa, atau suka merendahkan.
Beliau bahkan menurunkan satu kaidah pengajaran yang menohok. Seorang pendidik, tulisnya, hendaklah menghadapi manusia menurut kadar akalnya masing-masing, dan tidak menuntut dari orang yang belum tahu apa yang ia tuntut dari orang yang sudah tahu.
وَأَنْ تُخَالِقَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ، وَلَا تَنْتَظِرَ مِنَ الْجَاهِلِ مَا تَنْتَظِرُهُ مِنَ الْعَالِمِ
"Hendaklah engkau menghadapi manusia sesuai kadar akal mereka, dan jangan menuntut dari orang yang belum berilmu apa yang engkau tuntut dari orang yang sudah berilmu."
Inilah tadarruj yang hilang dari cara kita mengajar. Anda marah kepada anak kelas satu karena belum paham seperti anak kelas enam, lalu menyebutnya bodoh. Padahal beliau, dalam kitab yang sama, mendahulukan satu perintah pendek: hormatilah yang tua dan sayangilah yang kecil.
Maulid yang sejati bukan yang paling merdu shalawatnya, melainkan yang paling menyerupai akhlaknya. Seorang guru yang mengajar dengan lembut, sabar menunggu yang tertinggal, dan tak pernah mempermalukan muridnya, sesungguhnya sedang bershalawat dengan cara yang jauh lebih didengar langit daripada seribu bait pujian yang tidak turun ke ruang kelasnya.