Buku habis dibaca. Materi selesai disampaikan. Catatan penuh, tugas terkumpul, nilai keluar. Tetapi cara berpikir, sikap, dan kebiasaan peserta didik nyaris tidak berubah. Apakah proses seperti ini layak disebut pembelajaran mendalam?
Dalam tulisan ini, *deep learning* berarti pembelajaran mendalam, bukan teknologi kecerdasan buatan. Khazanah pemikiran Imam Abu al Azaaim menyediakan dasar yang sangat kuat untuk membaca kembali makna belajar secara mendalam. Tesisnya tegas, kedalaman belajar tidak ditentukan oleh banyaknya materi yang masuk ke kepala, melainkan oleh sejauh mana ilmu dipahami, dihadirkan dalam kesadaran, diamalkan, lalu membentuk diri.
Ilmu harus sampai pada amal
Imam Abul Azaim membuka *al-Nūr al-Mubīn* dengan satu kaidah yang langsung menghantam kebiasaan belajar kita:
> فَإِنَّ الْعُلُومَ إِنَّمَا تُتَلَقَّى لِلْعَمَلِ بِهَا، وَلَيْسَ الْعَالِمُ مَنْ عَلِمَ، إِنَّمَا الْعَالِمُ مَنْ عَلِمَ فَعَمِلَ
“Ilmu dipelajari untuk diamalkan. Orang berilmu bukan sekadar orang yang mengetahui. Orang berilmu adalah orang yang mengetahui lalu mengamalkan.”
Inilah fondasi pertama pembelajaran mendalam. Pengetahuan tidak boleh berhenti sebagai informasi yang dapat diulang saat ujian. Ilmu harus menemukan bentuknya dalam keputusan dan tindakan. Seorang siswa yang mampu menjelaskan kejujuran, tetapi terbiasa mencontek, baru menyimpan definisi. Ia belum belajar secara mendalam. Mahasiswa yang fasih membahas etika akademik, tetapi ceroboh mengutip sumber, juga belum menuntaskan belajarnya.
Imam Abul Azaim memperjelas hubungan ini dalam *al-Ṭarīq ilā Allāh*. Menurutnya, ilmu merupakan jalan menuju amal, sedangkan amal mengantarkan manusia mendekat kepada Allah swt. Berarti, ilmu memiliki arah. Ilmu bukan barang pajangan intelektual. Dalam bahasa pendidikan sekarang, pengetahuan harus mengalami transfer: apa yang dipahami di ruang belajar dapat digunakan untuk membaca masalah, menentukan sikap, dan mengerjakan sesuatu dalam kehidupan nyata.
Sampai di sini kita mendapatkan ukuran sederhana. Setelah pelajaran selesai, tanyakanlah: apa yang kini dapat dilakukan peserta didik dengan ilmunya? Bila jawabannya hanya “dapat menjelaskan kembali”, pembelajaran mungkin baru menyentuh permukaan.
Kesulitan bukan alasan untuk berhenti
Pembelajaran dangkal menyukai jawaban cepat. Materi yang rumit segera disederhanakan sampai kehilangan isi. Kalimat yang sulit dilewati. Pertanyaan yang mengganggu ditutup dengan hafalan. Akhirnya peserta didik terlihat lancar, tetapi rapuh.
Imam Abul Azaim justru memberi perhatian besar pada saat seseorang tidak memahami ilmu. Dalam *al-Nūr al-Mubīn*, ia mengingatkan bahwa kebuntuan memahami suatu masalah dapat membuat seseorang menolak ilmunya, menyalahkan gurunya, merasa bosan, lalu meninggalkan kajian. Semua itu disebutnya sebagai penghalang untuk memperoleh pemahaman.
Ia meminta murid tetap belajar, mengakui kesulitan, memohon pertolongan Allah swt, dan kembali menelaah persoalan tersebut dengan kesungguhan. Murid bahkan dianjurkan berwudu, mendirikan salat, lalu meminta agar Allah membukakan makna yang masih tertutup. Belajar, dalam pandangan ini, merupakan kerja akal sekaligus ibadah.
Nasihat tersebut mengandung disiplin intelektual dan adab spiritual. Murid tidak berpura-pura paham. Ia juga tidak menjadikan kebingungan sebagai alasan untuk mencela. Ia mengenali batas dirinya, mencari bantuan, mengulang bacaan, dan menata kembali niatnya. Dalam istilah pendidikan, proses ini dekat dengan kesadaran metakognitif, yaitu kemampuan mengenali apa yang sudah dipahami, bagian mana yang belum jelas, serta langkah apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya.
Belajar mendalam memang membutuhkan jeda. Ada waktu untuk membaca, bertanya, mencoba, salah, lalu memperbaiki. Guru yang menuntut jawaban serba cepat dapat menghasilkan kelas yang ramai, tetapi belum tentu melahirkan pemahaman.
Makna harus hadir, bukan sekadar disebut
Imam Abul Azaim menjelaskan tujuan mempelajari ilmu tauhid dengan bahasa yang sangat kuat. Ilmu harus melahirkan keyakinan sehingga makna-makna ketuhanan hadir dalam diri, menarik jiwa menuju kebenaran, menguatkan tawakal, menumbuhkan rasa percaya kepada Allah swt, dan memengaruhi perbuatan. Ia bahkan menggambarkan kedalaman tersebut seperti seseorang yang seakan-akan menyaksikan makna yang dipelajarinya.
Lalu ia mengkritik pengajaran tauhid yang sibuk memamerkan perdebatan, menyusun keraguan, dan menunjukkan kecakapan guru membantah lawan. Pelajaran semacam itu mungkin terdengar canggih. Tetapi jika hasilnya justru mengganti keyakinan dengan kebimbangan dan merusak akal peserta didik, maka tujuan pendidikan telah gagal.
Di sinilah pemikiran Imam Abul Azaim melampaui pemahaman belajar sebagai kerja otak semata. Pembelajaran mendalam menyatukan akal, hati, kemauan, dan perbuatan. Peserta didik memahami makna, merasakan kepentingannya, menerima kebenarannya, lalu terdorong bertindak. Ilmu menjadi pengalaman batin sekaligus pedoman hidup.
Perhatikan perbedaannya. Guru dapat mengajarkan kasih sayang dengan definisi, dalil, dan contoh. Tetapi kasih sayang baru menjadi pembelajaran mendalam ketika peserta didik mampu melihat penderitaan orang lain, tergerak mendekat, lalu memberi pertolongan. Pelajaran telah masuk ke dalam diri.
Imam Abul Azaim juga menaruh perhatian pada lingkungan belajar. Ia menjelaskan bahwa jiwa cepat dipengaruhi oleh apa yang ditangkap indra. Apa yang terus-menerus dilihat dan didengar akan terasa akrab, lalu mudah diterima. Pesan ini sangat penting. Kelas bukan sekadar ruangan tempat materi disampaikan. Suasana, kebiasaan, bahasa, dan contoh yang berulang ikut mendidik.
Guru dapat mengajarkan kebersihan, tetapi kelas yang kotor menyampaikan pelajaran tandingan. Sekolah dapat memasang slogan disiplin, tetapi keterlambatan yang dibiarkan akan lebih kuat daripada slogan tersebut. Lingkungan pun mengajar.
Guru mengajar dengan hidupnya
Ada satu pesan lain yang sangat penting. Imam Abul Azaim meminta orang yang telah memahami suatu ilmu agar segera mengamalkannya dan menjelaskan kepada saudaranya “dengan perbuatan sebelum perkataan” (*bi al-ʿamal qabl al-qawl*). Guru, dengan demikian, bukan pengeras suara bagi materi. Kehidupannya menjadi bagian dari materi itu sendiri.
Peserta didik membaca lebih banyak daripada yang guru ucapkan. Mereka membaca cara guru menanggapi kesalahan, menghormati perbedaan, menepati waktu, mengakui kekeliruan, dan memperlakukan orang yang dianggap lemah. Ceramah tentang adab dapat selesai dalam satu jam. Tetapi satu tindakan kasar dari guru bisa membatalkan seluruh ceramah tersebut.
Imam Abul Azaim juga meminta agar ilmu dijelaskan kepada setiap kelompok sesuai kadar akalnya. Pesan ini dekat dengan pembelajaran yang peka terhadap kesiapan peserta didik. Materi yang sama tidak harus disampaikan dengan cara yang sama. Guru perlu memilih bahasa, contoh, kedalaman, dan tahapan yang sesuai. Menyeragamkan cara mengajar sering tampak adil, padahal dapat mengabaikan keadaan nyata murid.
Maka pembelajaran mendalam dalam perspektif khazanah Imam Abul Azaim dapat dipahami sebagai perjalanan dari ilmu menuju perubahan. Prosesnya dimulai dengan tujuan yang benar, dilanjutkan dengan perjuangan memahami, diperkuat oleh kehadiran makna, dibuktikan melalui amal, lalu ditularkan melalui keteladanan yang sesuai dengan keadaan peserta didik.
Kelas tidak kekurangan materi. Kita justru sering kekurangan kedalaman. Maka jangan cepat merasa berhasil ketika peserta didik telah mampu menjawab. Lihatlah apa yang berubah pada cara mereka menilai, memilih, dan bertindak. Sebab ilmu yang belum mengubah hidup mungkin baru singgah di ingatan.
Belum masuk ke dalam diri.