Rumahnya bersih. Halamannya rapi. Sampah dipilah, keran air dijaga agar tidak mengucur percuma, dan tanaman dirawat setiap pagi. Namun, ketika azan Zuhur terdengar, sapu di tangannya terus bergerak. Rumah dibersihkan, tetapi panggilan Pemilik rumah diabaikan.
Kebersihan tentu baik. Lingkungan yang terawat juga memberi manfaat nyata. Namun, ketika seseorang sangat peduli kepada alam dan tidak peduli kepada Pencipta alam, kebaikannya kehilangan arah vertikal. Manfaatnya mungkin dirasakan di dunia, tetapi belum menjadi kesalehan yang utuh.
Kesalehan adalah kemampuan menjaga hubungan baik dengan Allah Swt. sekaligus dengan makhluk-Nya. Baik kepada Allah sambil merusak alam adalah kesalehan yang pincang. Sibuk menjaga bumi tetapi membelakangi Rabbul ‘alamin juga merusak keseimbangan. Sebab, diri manusia sendiri adalah bagian dari alam. Saat hubungan dengan Penciptanya rusak, sesungguhnya ia sedang merusak ekosistem batinnya sendiri.
Imam Muhammad Madi Abu al-‘Aza’im menulis:
> العبادة كلمة جامعة لأنواع الخير كله
“Ibadah adalah kata yang menghimpun seluruh jenis kebaikan.”
Ibadah, dalam pengertian ini, bukan satu kegiatan yang ditempatkan bersebelahan dengan kepedulian sosial dan lingkungan. Ibadah adalah ruh yang mengarahkan seluruh kebaikan. Menjaga sungai menjadi ibadah ketika dilakukan sebagai pelaksanaan amanah Allah. Menanam pohon menjadi ibadah ketika ditujukan untuk memelihara kehidupan makhluk-Nya. Membersihkan halaman pun menjadi ibadah apabila tangan yang memegang sapu tetap memenuhi panggilan salat.
Tanpa hubungan yang baik dengan Allah, kebaikan sangat rawan disusupi kepentingan duniawi. Lingkungan dijaga selama ada penghargaan. Sampah dipungut ketika kamera merekam. Pohon ditanam untuk membangun citra. Gerakan kebersihan dijalankan karena tersedia anggaran. Ketika pujian, keuntungan, atau perhatian manusia menghilang, semangat berbuat baik ikut mengering.
Bukan berarti setiap orang yang peduli lingkungan pasti memiliki niat seperti itu. Manfaat perbuatannya tetap nyata. Udara menjadi lebih bersih, sungai lebih terjaga, dan kehidupan makhluk tertolong. Namun, manfaat duniawi tidak sama dengan kesalehan. Kesalehan menuntut agar kebaikan itu mempunyai akar yang menembus bumi dan pucuk yang menghadap langit.
Dalam *al-Mawāhib al-Ilāhiyyah*, Ahmad Sa‘d al-‘Aqqad meriwayatkan perkataan Imam Abu al-‘Aza’im:
> فالقلب الذي فيه رحمة على العوالم الكونية، هو الذي تخلق بأخلاق الله ونال المرام
“Hati yang memiliki kasih sayang kepada seluruh alam ciptaan adalah hati yang berakhlak dengan akhlak yang Allah cintai dan telah mencapai tujuannya.”
Kasih sayang kepada alam, menurut ungkapan ini, justru lahir dari kejernihan hati yang mengenal Allah. Ibadah yang benar semestinya membuat seseorang semakin lembut kepada manusia, hewan, tumbuhan, air, dan tanah. Orang yang rajin salat tetapi membuang sampah ke sungai belum membawa ruh salatnya keluar dari masjid. Sebaliknya, orang yang tekun membersihkan sungai tetapi enggan bersujud belum membawa kebaikannya menghadap Pemilik sungai.
Secara ruhani, mengajak orang yang telah terbiasa rukuk dan sujud untuk menjaga alam mestinya lebih mudah. Ia hanya perlu diingatkan bahwa bumi yang diinjaknya adalah ciptaan Allah dan merawatnya merupakan amanah. Sebaliknya, kepedulian kepada lingkungan belum tentu mudah mengantarkan seseorang kepada salat apabila sejak awal kebaikan itu tidak dihubungkan dengan Allah.
Maka, lengkapilah kebaikan kepada alam dengan keharmonisan bersama Rabbul ‘alamin. Jaga sungai, lalu gunakan airnya yang bersih untuk berwudu. Jaga hutan agar akar-akarnya melindungi mata air tempat manusia bersuci. Tanam pohon agar rindangnya menaungi orang yang berjalan menuju masjid.
Jangan biarkan tangan kita ramah kepada bumi, sementara dahi enggan menyentuhnya dalam sujud. Kesalehan yang utuh ketika kebaikan di bumi diterima di langit.