Pemikiran

Bahkan Binatang pun Bersatu

Binatang yang sedang bertengkar pun langsung bersatu saat melihat musuh. Kita justru sebaliknya.

Buka grup percakapan mana pun yang berisi sesama muslim, lalu tunggu sampai ada satu perkara khilafiyah lewat. Qunut, jumlah rakaat tarawih, cara berzikir, atau perkara politik menjelang pemilihan. Dalam hitungan jam, orang yang tadinya saling mendoakan sudah saling menyindir. Sebagian keluar diam-diam. Sebagian lagi bertahan sambil memendam jengkel.

Nah, kita sudah terlalu terbiasa menyebut kejadian semacam itu sekadar beda pendapat.

Seorang ulama Mesir menolak menyebutnya begitu. Sayid Muhammad Madi Abu al-Aza'im, yang hidup pada 1286 sampai 1356 Hijriah, menulis sebuah risalah dan memberinya judul yang tidak main-main, Asy-Syifa min Marad at-Tafriqah, obat bagi penyakit perpecahan. Perhatikan pilihan katanya. Bukan jalan keluar bagi perbedaan, melainkan obat bagi penyakit.
Risalah itu lahir dari sebuah pertanyaan. Seseorang datang kepada beliau di tengah kekacauan zaman lalu bertanya, adakah obat bagi penyakit menahun ini sehingga masyarakat kita bisa sembuh? Sebelum bertanya, penanya itu menyampaikan satu pengamatan yang mestinya membuat kita malu.

Perpecahan pada saat seperti ini tidak pantas, dan binatang pun tidak akan rela melakukannya, sebab jenis binatang apa pun akan bergegas bersatu begitu melihat musuh, sekalipun sedang dalam pertengkaran yang paling sengit.

Bacalah sekali lagi kalimat itu. Kawanan yang sedang berebut makanan akan langsung merapat begitu ada pemangsa mendekat. Mereka tidak menunggu perdebatan selesai, dan tidak pula menuntut siapa yang benar lebih dahulu.

Jawaban Imam Abu al-Aza'im bertumpu pada satu ayat yang menurut beliau setiap hari lewat di telinga kita.
أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
"Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah di dalamnya." (QS Asy-Syura ayat 13)

Beliau berhenti agak lama pada kata pertama ayat itu. Syara'a lakum, kata beliau, bermakna Allah menjelaskan sekaligus mewajibkan. Maka larangan berpecah belah bukan anjuran yang boleh kita timbang dulu untung ruginya, melainkan kewajiban yang berdiri sejajar dengan perintah menegakkan agama. Keduanya diletakkan dalam satu ayat dan satu tarikan napas. Orang yang rajin salat tetapi rajin pula memecah barisan sebenarnya baru menjalankan separuh perintah.

Beliau juga mengingatkan asal kata syariat, yaitu tempat di tepi air mengalir yang didatangi orang untuk minum dan bersuci. Agama disebut syariat justru karena begitulah fungsinya, membersihkan jiwa dan menyirami ruh. Orang yang berdiri di batas-batas Allah ibarat orang yang berdiri di tepian sungai. Ia minum lalu segar, ia mandi lalu bersih.
Menurut beliau, umat ini mulanya berjaya karena berpegang teguh pada Kitab dan Sunnah, sampai kejayaan itu terasa seolah kehendak mereka dikabulkan begitu saja. Lalu mereka terpecah menjadi golongan dan kelompok. Sesudah itu, tulis beliau, Allah menjadikan mereka dikuasai oleh orang-orang yang dahulu justru menjadi pengikut mereka sendiri.
Kalimat terakhir itu ditulis seorang Mesir pada masa negerinya dijajah. Kita bisa membayangkan betapa perih menuliskannya.

Begitulah cara perpecahan bekerja. Bentuknya bukan serangan dari luar, melainkan pelemahan dari dalam sampai pihak luar tinggal melangkah masuk tanpa perlu bersusah payah.

Setidaknya ada dua hal yang bisa Anda kerjakan hari ini juga, dan keduanya kecil. Pertama, sebelum membalas satu pesan yang memancing, tanyakan kepada diri sendiri apakah balasan itu menegakkan agama atau justru merapuhkan barisan. Cara kedua, biasakan menyebut kebaikan orang yang berbeda pendapat dengan Anda di hadapan orang lain, sebab lidah yang terbiasa memuji akan sulit dipakai untuk memecah.

Musuh umat ini tidak pernah kekurangan jalan masuk. Kita saja yang terlalu sering membukakan pintunya.

R. Marpu Muhidin Ilyas
Penulis

R. Marpu Muhidin Ilyas

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, pendidik, dan penulis yang menekuni pendidikan Islam, hadis, pesantren, dan pembentukan manusia.

Profil penulis